Saya merupakan seorang wanita yang dilahirkan pada tanggal 30 Juli 1989 dari hasil buah pernikahan Filipus Harry Wiryono dan Inge Andrianti, yang merupakan kedua orang tua saya. Saya dilahirkan di
Bayi mungil yang lahir selamat dengan lilitan tali pusar di leher. Menurut kepercayaan ayah saya yang merupakan bagian dari orang Jawa, itu merupakan pertanda yang baik bagi sang bayi perempuan yang lahir. Saya sangat bersyukur akan hal itu dan tak luput untuk terus berdoa kepada Tuhan agar hal itu benar adanya. Saya pun diberi nama Theresia Yulia Haryanti. Nama tersebut memiliki arti. Theresia merupakan nama permandian Gereja (Baptis) dan ayah mengharapkan agar kelak saya bisa meneladan cinta kasih Ibu Teresa dari Calcuta, kemudian Yulia diambil dari kata Juli berdasarkan bulan kelahiran saya, dan Haryanti merupakan penggabungan dua nama Ayah dan Ibu saya yakni Harry dan Andrianti. Sebuah makna yang begitu indah yang menjadi harapan kedua orang tua saya kelak pada saat saya tumbuh dewasa.
Kedua orang tua saya mengatakan bahwa mereka sangat bersyukur kepada Tuhan telah dianugerakan putri seperti saya. Saya merupakn putri ke- empat dari empat putri yang dimiliki kedua orang saya. Kakak pertama yang saya miliki bernama Cressentia Nolita, memiliki perbedaan umur yang cukup jauh dengan saya, yakni empat belas tahun. Kakak kedua saya Febri Verawati yang berjarak sembilan tahun dengan saya, dan kakak terakhir Sicilia Ellen Andrianti dengan jarak umur tujuh tahun. Empat bersaudara dengan jenis kelamin yang sama, perempuan. Hal ini membuat ayah saya menjadi pria paling tampan dirumah, dikelilingi lima wanita yakni anak – anak dan istrinya. Ya tentu saja, itu karena Ia hanya seorang diri sebagai pria di rumah. Ini yang membuat keluarga saya unik.
Walaupun demikian, di lain sisi, tersimpan pula hal menyedihkan waktu Ibu saya mengetahui bahwa Ia kembali mengandung. Pada waktu itu, Ibu saya mengalami kegagalan spiral (KB) dan akhirnya jadilah Ia kembali mengandung calon bayi dan itu adalah saya. Pada saat itu, Ibu merasa tidak siap akan kehamilannya. Ia merasa bahwa memiliki tiga orang anak saja sudah sangat cukup dari perkiraan, mengingat pada waktu kehamilan Ibu saat mengandung kakak saya yang ketiga, Ibu juga mengalami kegagalan spiral sehingga pada saat itu sempat terlintas dipikirannya bahwa Ia ingin menggugurkan saya. Namun ketika Ia mengutarakan hal itu kepada Ayah, Ayah sangat menentang keras hal itu. Ayah tidak ingin menetang apa yang sudah menjadi kehendak Tuhan. Menurut ayah ini semua sudah menjadi rencana Tuhan yang tidak akan pernah diketahui ada makna apa dibalik peristiwa ini, namun segalanya akan ditunjukkan oleh-Nya kelak. Sehingga niat untuk menggugurkan saya pun segera diurungkan oleh Ibu saya.
Akhirnya setelah saya lahir, Ayah mengatakan hal yang mendalam sambil menimang-nimang saya : ” walah nduk ,masa anak papi yang cantik gini mau disia-siain sama mami.” Ibulah yang menceritakan hal ini kepada saya dan Ia juga merasa sangat menyesal dengan hal itu. Terkadang kakak saya pun menjadikan hal ini sebagai bahan candaan saat kami bersenda gurau bersama. Namun hal ini tidak menjadikan saya sakit hati atau menaruh dendam kepada Ibu, tetapi justru malah sebaliknya. Saya ingin membuatnya bangga dan menunjukkan kepadanya bahwa saya tidak sia – sia dilahirkan olehnya ke dalam dunia ini. Saya ingin mewujudkan hal itu suatu saat nanti.
Saya dibesarkan di tengah keluarga yang sederhana. Tiga kakak perempuan yang berjarak cukup jauh dengan saya membuat saya menjadi adik kecil yang benar – benar diasuh mereka dengan sepenuh hati. Mereka mengatakan bahwa pada saat Ibu mengandung, mereka sangat tidak menyangka akan memiliki adik kecil lagi disaat usia mereka sudah mulai menginjak masa – masa remaja. Kakak – kakak saya sangat menyayangi saya dan ikut serta merawat saya dengan baik. Bahkan saat mereka berkumpul bersama teman – teman mereka saat bermain atau belajar, saya pun sering diajak saat itu. Menjadi anak bungsu tidak lantas menjadikan saya menjadi seorang anak yang manja. Ayah dan Ibu saya mendidik saya untuk menjadi seorang yang mandiri sejak saya masih kecil.
Saya sangat menyukai hal yang tak tergantikan dengan apapun bagi saya, yakni menyanyi. Dari saya berumur sekitar 3 tahun, Ibu bilang bahwa saya sudah tampak gemar dengan hal tersebut. Saya terus menerus bernyanyi kapan pun dan dimana pun dari sejak kecil. Mulai dari di depan kaca, bahkan sampai di bis kota saat saya dan Ibu saya pergi. Dulu, kedua eyang buyut saya merupakan seorang musisi yang sangat suka terhadap seni. Mungkin darah dan bakat merekalah yang sampai saat ini masih mengalir dan mendarah daging pada saya sehingga saya sangat gemar bernyanyi walaupun kedua orang tua saya sama – sama tidak memiliki bakat menyanyi.
Ibu saya mengajarkan hal – hal yang sangat berarti bagi saya, dan Ia pun juga membuat pribadi saya untuk berani tampil di muka umum. Hal ini tidak mudah bagi setiap orang. Ibu selalu menempa saya dengan hal – hal positif dan tak pernah lelah membimbin saya belajar sehingga saya bisa tumbuh menjadi anak yang cukup berprestasi.
Saya bersekolah TK di Pangudi Luhur, Jakarta Selatan. Diikuti dengan SD dan SMP yang juga di sekolah yang sama. Ibu dan ayah saya mempercayakan saya di bawah naungan sekolah swasta Katolik agar kelak saya bisa lebih disiplin dalam hidup ini. Mereka sadar bahwa kedisiplinan merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk meraih kesuksesan. Maka penting bagi mereka untuk membiasakan agar saya bisa hidup disiplin.
Dari semenjak TK hingga awal SMA, saya mengikuti kelompok paduan suara Pangudi Luhur dan mengikuti berbagai perlombaan mulai dari tingkat sekolah, propinsi, nasional, dan tingkat dunia, yang pada saat itu merupakan ajang World Choir Game 2006 di Xiamen, China, yang mengikutsertakan 19 kontingen dari Indonesia dan puluhan negara di dunia. Hal ini merupakan hal yang tak terlupakan bagi hidup saya dan juga menjadi pengalaman yang sangat berharga. Tentunya butuh pengorbanan yang tidak mudah untuk mewujudkan impian – impian tersebut. Proses latihan yang sangat menyita waktu, kesehatan dan kondisi yang harus terjaga terus, dan juga pantang terhadap makanan yang bisa membuat suara rusak.
Saat SD saya dikenal sebagai siswa yang sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan mulai dari olah raga, kesenian, perlombaan mata pelajaran, dan kegiatan – kegitan lainnya yang membuat saya memiliki 21 piala penghargaan hingga saat ini. Demikian pula sewaktu SMP, saya berperan akti sebagai anggota OSIS dari sejak kelas dua SMP dan juga sering terlibat dalam berbagai kepanitiaan acara – acara sekolah.
Selain mengikuti paduan suara, saya juga sering tampil bernyanyi di berbagai acara sekolah, Gereja, lingkungan, keluarga dan pernikahan. Hal iitu saya lakukan untuk selalu mengasah dan mengembangkan bakat saya tersebut. Saya sangat bersyukur telah diberikan Tuhan, talenta hidup yang sangat berharga. Saya ingin senantiasa mengembangkan talenta yang diberikan Tuhan itu agar dapat selalu berguna bagi hidup saya dan orang lain kelak.
Setelah itu, saya menempuh jenjang pendidikan SMA di SMA 6, Mahakam. Pada saat SMA pernah menjabat sebagai ketua Rohkat (Rohani Katolik) SMA 6. Semasa SMA saya aktif berkegiatan dan juga masih terus bernyanyi. Selalu mengisi acara – acara sekolah dan menjadi anggota vocal grop SMA ^ yang sempat beberapa kali menjadi juara dalam ajang perlombaan. Saat itu saya memiliki teman duet bernyanyi yang mungkin tidak tergantikan, yakni Gerard Sebastian P. Kami sering mengisi acara – acara sekolah bersama sehingga kamipun menjadi sahabat hingga saat ini.
Saya memiliki angan – angan untuk menjadi wanita yang sukses dalam karir dan juga dalam membina rumah tangga kelak. Angan – angan ini menjadi sebuah ambisi yang harus saya wujudkan suatu saat nanti. Saya sangat menginginkan bahwa apa yang saya lakukan suatu hari nanti kelak dapat menjadi garam dan terang bagi sesama dan bagi dunia. Saya ingin membahagiakan kedua orang tua saya sebelum mereka kembali ke sisi Tuhan pada suatu hari nanti.
Saya sangat bangga dengan Ayah dan Ibu saya yang telah mendidik saya menjadi seperti ini. Karena kesetiaa mereka dalam membimbing saya dalam hal apapun, merawat, menjaga, dan selalu memberikan support kepada saya membuat saya menjadi anak yang cukup berprestasi hingga saat. Walaupun demikian, saya menyadari masih sangat banyak kekurangan dalam diri saya yang perlu saya perbaiki. Saya masih jauh dari sebuah kesempurnaan.
Hal yang paling membuat saya bahagia dan sangat bersyukur yakni, ”saya dilahirkan sebagai saya”. Ini membuat saya bisa mengalami berbagai peristiwa yang bisa saya rasakan sampai saat ini. Apabila saya dilahirkan sebagai orang lain, maka mungkin akan jauh berbeda kisah hidupnya. Dan mungkin saya tidak akan menjadi seperti sekarang ini yang masih bisa sangat mensyukuri keadaan yang diberikan.
Keluarga yang begitu berarti bagi kehidupan sya membuat saya lebih terpacu untuk meraih sebuah kesuksesan dalam hidup. Demikian pula dengan teman – teman yang begitu baik yang dianugerahkan kepada saya. Mereka sangat mengisi hidup saya selama ini dan juga memberikan inspirasi yang begitu bermakna akan sebuah arti hidup.
Hal yang paling saya takuti adalah ”meninggalkan Tuhan dan keimanan saya” karena saya percaya bahwa segala yang terjadi dalam hidup saya ini merupakan campur tangan Tuhan yang nantinya akan ada rencana indah yang sudah disiapkan untuk kita di kehidupan berikutnya jika kita mau untuk senantiasa setia selalu bersama dengan-Nya.
Saya percaya bahwa hidup kita bukanlah berdasarkan apa yang ditakdirkan, melainkan pilihan kita terhadap takdir tersebut. Apakah kita ingin mengubah menjadi lebih baik atau semakin memperburuknya. Oleh karena itu saya ingin memperjuangkan sesuatu yang baik dalam hidup yang sangat singkat dan hanya sekali ini.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar